ADVERTORIAL

Kampung Adat Hukaea Laea Dipersiapkan Menjadi Etalase Budaya Bombana di Sail to Indonesia 2026

28
×

Kampung Adat Hukaea Laea Dipersiapkan Menjadi Etalase Budaya Bombana di Sail to Indonesia 2026

Sebarkan artikel ini

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia meninjau Kampung Adat Hukaea Laea di Kabupaten Bombana sebagai bagian dari persiapan Sail to Indonesia 2026. Desa adat Suku Moronene itu diproyeksikan menjadi salah satu destinasi budaya yang akan dikunjungi wisatawan dari 60 negara

Bombana,A-1.Info / – Kampung Adat Hukaea Laea di Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, kembali menjadi perhatian dunia pariwisata nasional. Kamis (2/7/2026), kawasan yang dikenal sebagai pusat pelestarian budaya Suku Moronene itu dikunjungi tim dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dalam rangka meninjau kesiapan daerah menghadapi pelaksanaan Sail to Indonesia 2026.

Kunjungan tersebut dipimpin Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pariwisata RI, Franky, didampingi Ketua Organizer Sail to Indonesia, Raymond Timotius Lesmana. Turut hadir Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bombana Andi Astri As’ad, Staf Ahli Hukum Bupati Bombana Deddy Fan Alva Slamet, Sekretaris Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Sarwana Amir, serta Kasubag Perencanaan Ridwan Nurdin.

Kedatangan rombongan disambut langsung Kepala Kampung Adat Hukaea Laea, Mansur Lababa, bersama masyarakat adat melalui prosesi penyambutan khas Suku Moronene. Alunan musik tradisional dan ritual adat yang masih dipertahankan hingga kini menjadi gambaran nyata bahwa warisan budaya di kampung tersebut tetap hidup dan dijaga oleh masyarakatnya.

Peninjauan itu dilakukan untuk memastikan kesiapan Kampung Adat Hukaea Laea sebagai salah satu destinasi unggulan yang akan diperkenalkan kepada peserta Sail to Indonesia 2026. Pemerintah pusat menilai kawasan ini memiliki daya tarik budaya yang kuat karena masyarakatnya masih memegang teguh nilai-nilai adat dan tradisi leluhur.

Kabupaten Bombana sendiri menjadi satu dari empat daerah di Sulawesi Tenggara yang akan menjadi lokasi persinggahan peserta Sail to Indonesia 2026. Selain Bombana, tiga daerah lain yang masuk dalam rute pelayaran internasional tersebut adalah Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Buton Selatan, dan Kabupaten Muna Barat.

Kepala Kampung Adat Hukaea Laea, Mansur Lababa, mengatakan kunjungan tim Kementerian Pariwisata merupakan langkah awal untuk memastikan kesiapan kampung adat dalam menyambut wisatawan mancanegara yang akan datang ke Bombana pada akhir Agustus mendatang.

“Kunjungan ini untuk memastikan keberadaan masyarakat adat Hukaea Laea sekaligus meninjau lokasi yang memiliki potensi wisata. Rencananya, pada akhir Agustus 2026 akan ada wisatawan mancanegara yang kembali berkunjung ke kampung adat ini,” ujarnya.

Menurut Mansur, keunggulan utama Kampung Adat Hukaea Laea terletak pada keaslian budaya Moronene yang masih terpelihara dengan baik. Beragam tradisi adat, seperti Montewehi Wonua dan Mewusoi, hingga kini masih dijalankan oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Keaslian budaya inilah yang dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat adat di Indonesia.

Dalam agenda Sail to Indonesia 2026, sekitar 60 kapal layar yang membawa peserta dari 60 negara dijadwalkan bersandar di Pelabuhan Ferry Bombana pada akhir Agustus mendatang. Para peserta merupakan wisatawan internasional yang melakukan pelayaran keliling dunia dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi penting dalam perjalanan mereka.

Selama berada di Bombana, para pelancong akan diajak mengunjungi sejumlah destinasi unggulan daerah. Selain Kampung Adat Hukaea Laea, mereka juga dijadwalkan mengunjungi penangkaran rusa, kawasan konservasi anoa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, serta berbagai objek wisata alam dan budaya lainnya.

Pemerintah Kabupaten Bombana berharap momentum Sail to Indonesia 2026 tidak hanya menjadi ajang kunjungan wisata semata, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya Moronene dan potensi pariwisata daerah di tingkat internasional.

Melalui kegiatan tersebut, Bombana berpeluang memperkenalkan kekayaan budaya, tradisi, serta potensi wisata yang dimiliki kepada dunia. Di sisi lain, kehadiran wisatawan mancanegara juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama melalui pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, Kampung Adat Hukaea Laea bukan hanya akan menjadi destinasi persinggahan bagi para pelaut dunia, tetapi juga menjadi etalase budaya Moronene yang memperlihatkan kepada dunia bahwa tradisi dan kearifan lokal masih tumbuh dan terjaga di Kabupaten Bombana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *