Pagi di Kasipute selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil. Suara warga yang datang mengurus surat, keluhan yang disampaikan dengan wajah penuh harap, hingga percakapan sederhana di ruang pelayanan, menjadi bagian dari hari-hari seorang perempuan muda bernama Astri As Ad.
Saat itu, ia belum mengenakan seragam sebagai pejabat tinggi daerah. Ia hanyalah seorang Sekretaris Kelurahan yang baru memulai perjalanan panjangnya sebagai aparatur sipil negara.
Namun, dari ruang sederhana itulah, benih kepemimpinan itu tumbuh.
Hampir dua dekade kemudian, perempuan kelahiran Pangkajene, 30 September 1986, itu berdiri di titik yang berbeda. Pada 18 Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Bombana di bawah kepemimpinan Bupati Bombana, Burhanuddin, dan Wakil Bupati, Ahmad Yani, mempercayakan kepadanya amanah baru sebagai Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bombana.
Sebuah jabatan yang bukan sekadar tentang kursi dan kewenangan, melainkan tentang harapan.
Harapan untuk menghidupkan sektor pariwisata Bombana, sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat yang tinggal di sekelilingnya.
Perjalanan Astri sesungguhnya adalah kisah tentang kesetiaan pada pengabdian.
Setelah menamatkan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri pada 2009, ia memilih jalan yang tidak selalu mudah. Jalan yang membawanya dekat dengan masyarakat, jauh dari gemerlap jabatan.
Ia mengenal birokrasi dari bawah.
Dari berkas-berkas administrasi yang harus diselesaikan tepat waktu. Dari warga yang datang dengan wajah cemas karena persoalan kependudukan. Dari orang-orang kecil yang berharap pemerintah hadir untuk mendengar.
Di meja pelayanan itu, Astri belajar satu hal sederhana namun penting: birokrasi bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kemanusiaan.
Tiga tahun berselang, ia dipercaya menjadi Kepala Seksi Pemerintahan di Kecamatan Rumbia Tengah. Tanggung jawabnya bertambah luas. Ia mulai memahami bahwa setiap desa memiliki cerita, kebutuhan, dan harapan yang berbeda.
Kemudian, pada 2015, ia kembali dipanggil untuk berada di garis terdepan pelayanan publik sebagai Lurah Taubonto.

Sebagai lurah, ia melihat langsung bagaimana sebuah pembangunan hanya akan berhasil jika masyarakat ikut berjalan bersama pemerintah.
Ia menyaksikan sendiri bahwa kemajuan tidak pernah lahir dari perintah semata, tetapi dari keterlibatan dan rasa memiliki.
Pengalaman itu menjadi bekal yang terus dibawanya.
Ketika dipercaya menangani bidang pemberdayaan masyarakat pada 2020, Astri seakan menemukan benang merah dari seluruh perjalanan hidupnya.
Baginya, masyarakat bukan sekadar penerima program. Mereka adalah pelaku utama pembangunan.
Ia percaya bahwa desa-desa yang kuat akan melahirkan daerah yang maju.
Kepercayaan itu pula yang mengantarkannya menjadi Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bombana pada Juli 2024.
Jabatan demi jabatan datang menghampiri, tetapi satu hal tidak pernah berubah dari dirinya: kedekatan dengan masyarakat.
Kini, jalan pengabdian itu membawanya ke dunia yang berbeda: pariwisata.
Bagi sebagian orang, perpindahan itu mungkin terlihat jauh dari pengalaman yang selama ini ia tekuni. Namun bagi Astri, keduanya memiliki ruh yang sama.
Pariwisata bukan hanya soal pantai yang indah, gunung yang menawan, atau destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan.
Pariwisata adalah tentang manusia.
Tentang nelayan yang menjual hasil tangkapannya kepada pengunjung. Tentang ibu-ibu yang membuat kerajinan tangan. Tentang anak-anak muda desa yang menemukan harapan baru melalui ekonomi kreatif.
“Destinasi menjadi hidup bila masyarakat merasa memiliki,” ujarnya suatu ketika.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan keyakinan yang kuat.
Bombana memiliki segalanya. Laut biru yang membentang, pesona alam yang masih terjaga, serta kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Namun, semua potensi itu tidak akan bermakna jika masyarakatnya tidak ikut tumbuh bersama.
Di sinilah pengalaman panjang Astri menemukan relevansinya.
Ia memahami cara berbicara dengan masyarakat desa. Ia mengerti bagaimana membangun partisipasi warga. Ia tahu bahwa pembangunan terbaik selalu dimulai dari mendengarkan.
Di balik tugas-tugas pemerintahan yang padat, Astri juga menjalani peran yang tak kalah penting: seorang ibu bagi tiga orang anak.
Bagi perempuan itu, keluarga dan pengabdian bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya adalah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Mungkin karena itulah, perjalanan kariernya terasa begitu manusiawi.
Tidak dibangun oleh gemerlap panggung atau sorotan besar, melainkan oleh kerja-kerja sunyi yang berlangsung bertahun-tahun.
Dari ruang kelurahan yang sederhana, ruang rapat kecamatan, hingga kantor dinas, setiap langkah telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang matang.
Perjalanan Astri As Ad mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu lahir dari tempat yang tinggi.
Kadang-kadang, ia tumbuh perlahan dari tangan yang terbiasa melayani, dari telinga yang setia mendengar keluhan masyarakat, dan dari hati yang percaya bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia.
Kini, perempuan itu berdiri di depan sebuah babak baru.
Di pundaknya tersimpan harapan untuk membawa pariwisata Bombana melangkah lebih jauh.
Dan seperti perjalanan hidup yang telah ditempuhnya selama ini, mungkin langkah itu akan dimulai dengan cara yang paling sederhana: mendengarkan masyarakat, lalu berjalan bersama mereka.


