Bombana,A-1.Info / – Di Bombana, Sulawesi Tenggara, kepemimpinan tidak selalu lahir dari panggung besar atau sorotan kekuasaan. Terkadang, ia tumbuh dari disiplin, ketekunan, dan kesediaan untuk turun langsung melayani masyarakat. Sosok itu tercermin pada diri Irfan Santosa Sarma, S.TP, putra daerah yang menapaki jalan kepemimpinan melalui prestasi sekaligus pengabdian nyata.
Irfan merupakan peserta SPPI Batch-3 di Satdik X.A Kodikdukum, sebuah pendidikan dan pembinaan yang menuntut kedisiplinan tinggi, ketangguhan mental, serta kemampuan kepemimpinan. Dalam proses pendidikan tersebut, Irfan berhasil meraih predikat siswa terbaik—sebuah capaian yang bukan sekadar simbol akademik, melainkan cerminan konsistensi dan karakter kepemimpinan yang menonjol.
Bagi Irfan, prestasi bukanlah garis akhir. Ia justru memaknainya sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Prinsip hidup yang ia pegang teguh, “Perintis bukan pewaris”, menjadi landasan dalam setiap langkahnya. Sebuah keyakinan bahwa keberhasilan harus dibangun melalui kerja keras dan dedikasi, bukan diwariskan begitu saja.

Dalam perjalanan pembentukan karakter kepemimpinan itu, Irfan banyak mendapat arahan dari mentornya, Letkol Inf Andi Irfandi, S.I.P. Nilai ketulusan dalam bekerja menjadi pesan yang terus ditanamkan. “Bekerja terbaik, tulus dan ikhlas,” merupakan wejangan yang kemudian membentuk cara pandang Irfan dalam menjalankan peran, baik sebagai pemimpin maupun pelayan masyarakat.
Ujian kepemimpinan Irfan sesungguhnya terasa ketika ia dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala SPPG Kecamatan Rarowatu Utara. Jabatan ini bukan posisi simbolik. Di pundaknya, terletak tanggung jawab strategis dalam mengoordinasikan program yang menyentuh langsung kehidupan ribuan warga.
Melalui perannya tersebut, Irfan memimpin pelaksanaan program yang menjangkau 2.925 siswa, mencakup 22 sekolah, serta kelompok 3B (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui) di wilayah Kecamatan Rarowatu Utara. Program ini merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang dijalankan melalui Badan Gizi Nasional (BGN), salah satunya lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di lapangan, Irfan tidak hanya mengawal aspek administratif. Ia memastikan setiap tahapan berjalan tepat sasaran—mulai dari koordinasi tim, distribusi, hingga pengawasan kualitas layanan. Menurutnya, MBG bukan sekadar soal pemenuhan gizi, tetapi juga tentang membangun ekosistem sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
“Program BGN ini manfaatnya sangat luas. Anak-anak mendapatkan asupan gizi yang lebih baik, sementara masyarakat sekitar ikut merasakan dampak ekonomi—dari terbukanya lapangan kerja, keterlibatan relawan, hingga meningkatnya kesejahteraan petani dan pelaku usaha lokal,” ujar Irfan.
Ia menilai, MBG menghadirkan rantai manfaat yang saling terhubung. Hasil pertanian lokal terserap, tenaga kerja diberdayakan, dan perputaran ekonomi di tingkat kecamatan menjadi lebih hidup. “Ini wujud nyata program strategis pemerintah yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” tambahnya.
Dalam menjalankan tugas tersebut, Irfan memimpin tim sekitar 50 orang dengan latar belakang keahlian beragam. Tim ini terdiri dari tenaga ahli gizi, ahli sanitasi, akuntan, serta 47 relawan yang aktif mendukung pelaksanaan program di lapangan. Kolaborasi lintas profesi ini menjadi kunci keberhasilan, sekaligus tantangan tersendiri dalam menjaga ritme kerja yang solid.
Di mata rekan kerja dan masyarakat, Irfan dikenal mengedepankan gaya kepemimpinan yang humanis namun tegas. Ia tidak sekadar memberi instruksi, tetapi juga membangun semangat kolektif, memastikan setiap anggota tim merasa memiliki peran dan tanggung jawab yang sama. Pendekatan ini membuat koordinasi berjalan lebih efektif dan pelayanan kepada masyarakat tetap optimal.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Kepala SPPG menjadi penanda bahwa Irfan bukan sekadar figur berprestasi di ruang pendidikan dan pelatihan. Ia hadir sebagai representasi generasi muda yang mampu menjembatani idealisme dengan kerja nyata, visi besar dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Di Bombana, kiprah Irfan Santosa Sarma menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu ditentukan oleh usia atau jabatan tinggi. Ia lahir dari kemauan untuk bekerja tulus, memikul tanggung jawab, dan memastikan setiap kebijakan bermuara pada manfaat yang dirasakan bersama.
Dengan semangat perintis bukan pewaris dan prinsip bekerja terbaik, tulus, serta ikhlas, Irfan terus menapaki jalannya—membuktikan bahwa prestasi dan pengabdian bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari kepemimpinan yang utuh.

