Bombana,A-1.Info / – Sore hari di Desa Ladumpi tak lagi sekadar tentang pulang dari ladang atau rutinitas yang berulang. Di sudut desa, suara tawa anak-anak dan percakapan keluarga kini berpadu dengan gemericik air kolam. Kolam Kadi Lawaea perlahan menjadi ruang jeda—tempat warga melepas lelah tanpa harus pergi jauh atau mengeluarkan biaya besar.
Kolam ini lahir dari kebutuhan yang paling dasar: ruang rekreasi yang ramah bagi semua kalangan. Bukan wisata yang dibangun dengan kemewahan, melainkan dari pemahaman sederhana bahwa desa pun berhak memiliki tempat liburan sendiri. Dari situlah Kolam Kadi Lawaea tumbuh, dikelola dengan semangat kebersamaan dan orientasi manfaat bagi warga sekitar.
Di Desa Ladumpi, Kecamatan Rarowatu, Kabupaten Bombana, kolam renang ini kini menjadi magnet baru bagi masyarakat. Kolam Kadi Lawaea beroperasi setiap Senin hingga Jumat mulai pukul 14.00 Wita, sementara pada Sabtu dan Minggu dibuka sejak pukul 08.00 Wita hingga selesai. Skema tiket masuk dibuat terjangkau, yakni Rp15 ribu untuk dua orang, Rp20 ribu untuk tiga orang, dan Rp30 ribu untuk empat orang. Biaya parkir pun relatif ringan, Rp2 ribu untuk sepeda motor dan Rp5 ribu untuk mobil.
Pemilik Kolam Kadi Lawaea, Sukaji Ramang, menyebut sejak awal kolam ini dirancang sebagai ruang bersama. “Kami ingin tempat ini bisa dinikmati semua kalangan. Masyarakat tidak perlu jauh-jauh atau mahal hanya untuk berkumpul dan berlibur bersama keluarga,” ujarnya.
Fasilitas yang tersedia pun mencerminkan konsep wisata rakyat. Gazebo disiapkan gratis tanpa pungutan tambahan. Pengunjung juga diminta menyimpan tiket masuk, karena pengelola menerapkan sistem loyalitas—setiap sepuluh tiket, satu pengunjung mendapat akses gratis. Saat ini, kolam dewasa masih dalam tahap persiapan dan belum diluncurkan secara resmi.
Di sekitar kolam, kantin sederhana menjadi bagian dari denyut ekonomi desa. Aneka minuman dingin dan makanan ringan seperti pop ice, pop mie siram, mi instan rebus dan goreng, hingga bakso bakar dan sosis tersedia untuk pengunjung. Aktivitas ini membuka ruang usaha kecil sekaligus perputaran ekonomi harian bagi warga sekitar.
“Harapan kami sederhana, kolam ini bisa memberi manfaat langsung bagi warga desa, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sumber penghasilan,” kata Sukaji.
Lebih dari sekadar tempat berenang, Kolam Kadi Lawaea memperlihatkan bagaimana pariwisata desa dapat tumbuh dari inisiatif warga. Dengan pengelolaan sederhana dan harga yang adil, kolam ini menjadi alternatif rekreasi aman bagi keluarga, sekaligus membuka peluang ekonomi lokal.
Di tengah dorongan pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi wisata berbasis desa, Kolam Kadi Lawaea layak dipandang sebagai contoh nyata. Wisata tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, tetapi bisa bertumbuh dari kebutuhan rakyat, dikelola secara gotong royong, dan diarahkan menjadi penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan di Kabupaten Bombana.

