Uncategorized

PT Antam Resmikan Program Pembenihan Teripang Berbasis Kolaborasi di Kabupaten Kolaka

74
×

PT Antam Resmikan Program Pembenihan Teripang Berbasis Kolaborasi di Kabupaten Kolaka

Sebarkan artikel ini

Kolaka,A-1.Info / – PT Antam secara resmi menginisiasi Program Pembenihan Teripang sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong penguatan ekonomi pesisir yang berkelanjutan. Program strategis ini dihadiri langsung oleh Direktur Utama PT Antam, menandai keseriusan perusahaan dalam mendukung pengembangan sumber daya kelautan berbasis masyarakat dan ilmu pengetahuan.

Direktur Utama PT Antam dalam sambutannya menyampaikan bahwa program pembenihan teripang ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis ekonomi biru yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, menjaga kelestarian sumber daya laut, serta menciptakan nilai tambah ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tim dosen dari Universitas Halu Oleo serta peneliti dari BRIN yang berperan dalam pendampingan teknis, penguatan aspek ilmiah, dan penerapan teknologi pembenihan teripang yang berkelanjutan. Sinergi ini memastikan bahwa program tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga berbasis riset, konservasi, dan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Dari sisi ilmiah, tim BRIN menilai peluang keberhasilan pembenihan di Tambea cukup besar.DR Sari, perwakilan tim BRIN, menyampaikan bahwa ketersediaan induk yang melimpah menjadi modal utama.

“Kunci keberhasilannya ada pada kedisiplinan mengontrol kualitas air serta menjaga kultur plankton dari kontaminasi. Jika itu konsisten dilakukan, peluang keberhasilannya sangat tinggi,” jelasnya.

DR Sari (BRIN),Menunjukkan Larva Teripang Pasir Yang Berhasil di pijahkan

Partisipasi Karang Taruna, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta kelompok-kelompok masyarakat setempat menjadi elemen penting dalam pelaksanaan program ini. Keterlibatan masyarakat secara langsung tidak hanya mendorong transfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memperkuat rasa kepemilikan terhadap program sehingga keberlanjutan kegiatan dapat terjaga dalam jangka panjang.

Melalui kolaborasi multipihak ini, PT Antam menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang berdampak nyata, terukur, dan berkelanjutan, sejalan dengan upaya nasional dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berwawasan lingkungan.

Di tempat yang sama, Amadhan Takwir dari Tim LPPM Universitas Halu Oleo mengatakan, “Tim LPPM UHO akan mengupayakan transfer pengetahuan teknis pengelolaan sentra pembenihan, mulai dari kultur plankton hingga pemeliharaan larva sampai penebaran bibit, agar dapat dilakukan secara maksimal oleh masyarakat Desa Tambea. Harapannya, masyarakat dapat mengelola secara mandiri dan berkesinambungan.”

Desa Tambea, Kabupaten Kolaka, mencatatkan tonggak sejarah baru dalam perjalanan panjang budidaya teripang pasir. Tradisi budidaya yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun kini memasuki babak baru menuju kemandirian dan keberlanjutan, seiring keberhasilan pemijahan dan pemeliharaan awal larva teripang pasir melalui program kolaboratif yang diinisiasi oleh PT Antam bersama Universitas Halu Oleo, BRIN, Pemerintah Daerah Kolaka, dan masyarakat Desa Tambea.

Sejarah budidaya teripang pasir di Desa Tambea telah menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir sejak lama. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, para pembudidaya menghadapi tantangan besar berupa menurunnya ketersediaan bibit dari alam akibat penangkapan berlebihan serta perubahan lingkungan. Ketergantungan terhadap bibit alam berpotensi menjadi penghambat kemajuan dan keberlanjutan budidaya di desa tersebut.

Melihat kondisi tersebut, PT Antam menginisiasi dukungan program budidaya teripang pasir dengan memberikan bantuan bibit serta pembinaan kepada kelompok nelayan. Sejak tahun 2025, program ini diperkuat melalui pendampingan intensif oleh Tim LPPM Universitas Halu Oleo dengan fokus pada pengelolaan dan manajemen budidaya yang lebih efektif.

Hasilnya mulai terlihat nyata. Pada akhir Oktober 2025, program budidaya teripang pasir di Desa Tambea mencatatkan peningkatan baik dari sisi jumlah maupun bobot panen. Total nilai penjualan teripang mencapai sekitar Rp600 juta pada panen parsial yang dilakukan. Hal ini menjadi bagian dari keberhasilan kolaborasi antara akademisi Universitas Halu Oleo dan para pembudidaya teripang pasir di Desa Tambea.

Memasuki tahun 2026 sebagai tahap kedua program, fokus diarahkan pada penguatan kemandirian masyarakat pembudidaya. Program ini didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap bibit alam serta memastikan suplai hasil budidaya yang berkesinambungan. Visi jangka panjangnya adalah menjadikan Desa Tambea sebagai sentra teripang pasir nasional yang mampu bersaing di pasar global.

M. Rusdan, Kolaka Region CSR & ER Sub Division Head, mengatakan bahwa tantangan ketersediaan bibit yang sebagian besar masih bergantung pada hasil tangkapan dari alam menjadi perhatian PT ANTAM (Persero) Tbk UBP Nikel Kolaka. Oleh karena itu, diperlukan inovasi sarana pembenihan teripang atau hatchery untuk menjamin keberlanjutan budidaya sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Selain itu, program ini juga menekankan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan teknis, pendampingan, serta penguatan kelembagaan kelompok. Dengan sinergi antara perusahaan, lembaga riset, dan masyarakat, program yang dibungkus dalam konsep Program Mattirowalie ini diharapkan mampu menjadikan Kolaka sebagai sentra teripang unggulan di Sulawesi Tenggara sekaligus menjadi model praktik CSR yang berdampak nyata dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat pesisir.

Tonggak penting dalam perjalanan tersebut tercapai pada 27 Februari 2026, ketika sentra pembenihan teripang pasir Desa Tambea berhasil memijahkan telur teripang pasir dan memulai pemeliharaan larva. Menariknya, sumber induk yang digunakan berasal dari keramba budidaya milik masyarakat sendiri, menandai transisi menuju sistem budidaya yang lebih tertutup dan berkelanjutan.

Dokumentasi Pembenihan : Larva Teripang Pasir ( Fase Auricularia) Sentra Pembenihan Teripang Desa Tambea

Bagi masyarakat, keberhasilan ini merupakan harapan yang telah lama dinantikan. Fahri, salah satu pembudidaya yang aktif terlibat, mengungkapkan harapannya.

“Kami setiap hari membantu menyiapkan sarana dan wadah. Harapan kami sederhana, semoga pembenihan ini berhasil sehingga ke depan kami tidak lagi kesulitan mencari bibit,” ujarnya.

Sementara itu, Amadhan Takwir dari LPPM Universitas Halu Oleo menegaskan bahwa keberhasilan pemijahan tidak terlepas dari kuatnya kolaborasi lintas lembaga.

“Dukungan PT Antam, pendampingan teknis dari BRIN, serta partisipasi aktif masyarakat, tokoh pemuda, dan kelompok binaan menjadi faktor utama keberhasilan ini. Ke depan, kami berharap pengetahuan teknis pembenihan dapat sepenuhnya dikuasai oleh kelompok pembudidaya untuk memenuhi kebutuhan bibit secara mandiri,” ungkapnya.

Dengan capaian saat ini, para pembudidaya teripang pasir di Desa Tambea tidak hanya menjaga warisan alam, tetapi juga melangkah mantap menuju masa depan sebagai pusat produksi teripang pasir berkelanjutan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *