ADVERTORIAL

Ketika Bombana Menjadi Rumah Hangat Para Pendidik Sulawesi Tenggara

27
×

Ketika Bombana Menjadi Rumah Hangat Para Pendidik Sulawesi Tenggara

Sebarkan artikel ini

Ribuan guru se-Sultra rayakan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 di Bombana dengan semangat kebersamaan dan penghargaan bagi pengabdian tanpa batas.

Bombana, A-1.Info /— Pagi yang cerah menyapa Ruang Terbuka Hijau (RTH) eks MTQ Kabupaten Bombana), Rabu (5/11/2025). Ribuan guru dari berbagai penjuru Sulawesi Tenggara memadati lokasi tersebut, membawa semangat, tawa, dan rasa haru. Hari itu, Bombana menjadi pusat perayaan HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 tingkat provinsi — sekaligus menjadi ruang hangat tempat ribuan pendidik berbagi kisah tentang pengabdian, harapan, dan cinta terhadap profesi mulia mereka.

Guru, Pahlawan di Garis Depan Pendidikan

Upacara puncak peringatan HGN dan HUT PGRI digelar penuh khidmat. Staf Ahli Gubernur Sultra, La Ode Fasikin, S.Pi., M.Si., hadir mewakili Gubernur Sulawesi Tenggara sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, ia menegaskan kembali betapa pentingnya peran guru sebagai pembentuk karakter bangsa.

“Guru adalah ujung tombak masa depan bangsa. Dari tangan mereka lahir generasi yang akan menentukan wajah Indonesia di masa mendatang,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan tiga program prioritas nasional di bidang pendidikan, yakni Program Makan Bergizi Gratis, Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), serta penguatan literasi digital melalui koding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Program-program tersebut, katanya, tidak akan berjalan tanpa dukungan guru di lapangan.

“Sehebat apa pun kebijakan pemerintah, tanpa guru yang berdedikasi, semua itu hanyalah rencana di atas kertas,” tambahnya penuh makna.

Bombana, Rumah bagi Para Pendidik

Kehadiran Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M.Si., Wakil Bupati Ahmad Yani, S.Pd., M.Si., serta Ketua TP PKK Hj. Fatmawati Kasim Marewa menambah hangat suasana. Dalam sambutannya, Bupati Burhanuddin menegaskan bahwa profesi guru adalah inti dari kemajuan daerah.

“Pendidikan adalah jantung pembangunan. Kami di Bombana berkomitmen menciptakan lingkungan yang memuliakan guru, karena dari merekalah lahir generasi masa depan bangsa,” ujarnya disambut tepuk tangan panjang.

Suasana haru terasa saat lagu “Hymne Guru” dikumandangkan. Banyak peserta menunduk dengan mata berkaca-kaca, mengenang perjalanan panjang mereka di dunia pendidikan — dari ruang kelas sederhana hingga pengabdian di pelosok terpencil.

Perayaan yang Penuh Warna dan Apresiasi

Kemeriahan acara semakin terasa dengan berbagai penampilan dan penghargaan. Salah satu momen istimewa adalah penobatan Hj. Fatmawati Kasim Marewa sebagai Ibunda Guru Kabupaten Bombana, simbol penghargaan atas perannya dalam mendukung pendidikan di daerah. Selain itu, diberikan pula Satya Lencana Karya Satya 10 tahun, piala bergilir Porseni PGRI, serta penampilan fashion show daur ulang, senam massal PGRI, dan musik bambu dari SMPN 2 Rumbia yang memukau ribuan penonton.

Sorak tawa dan pelukan hangat mewarnai setiap sudut RTH eks MTQ. Di antara keramaian, tampak para guru saling bertukar cerita, berfoto bersama, dan mengenang perjuangan mereka di sekolah masing-masing. “Kami datang bukan sekadar merayakan, tapi untuk mengingat bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa,” ujar seorang guru asal Buton dengan senyum bangga.

Bombana dan Komitmen untuk Pendidikan

Dalam penutupan acara, Bupati Burhanuddin kembali menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperjuangkan kesejahteraan tenaga pendidik. Ia berjanji memperkuat sinergi dengan PGRI serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembentuk karakter bangsa. Kami ingin memastikan mereka mendapat tempat yang layak — di hati masyarakat dan dalam kebijakan pemerintah,” ucapnya.

Matahari sore perlahan turun di langit Bombana, namun semangat para guru tak surut. Mereka pulang dengan rasa bangga, membawa kisah indah dari perayaan yang akan dikenang lama. Hari itu, Bombana tidak hanya menjadi tuan rumah — tapi saksi dari cinta yang tak pernah padam antara guru dan pengabdian mereka untuk negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *