Dua puluh dua tahun adalah usia yang cukup bagi sebuah daerah untuk berhenti bertanya siapa kita, lalu mulai menjawab ke mana kita akan pergi. Hari ini tepat tanggal 18 Desember 2025, Kabupaten Bombana kembali merayakan hari lahirnya dengan tema yang terdengar tegas dan optimistis: “Berani Berkarya, Agrominapolitan Berkembang, Bombana Maju.” Tema ini bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan sebuah janji moral—kepada rakyat, kepada sejarah, dan kepada masa depan.
Namun, keberanian sejati tidak diukur dari seberapa lantang slogan diteriakkan, melainkan dari seberapa jujur kita berani mengoreksi diri.
Bombana sesungguhnya kaya, tetapi belum sepenuhnya berdaulat atas kekayaannya. Tanahnya subur, lautnya luas, dan perut buminya menyimpan potensi besar. Sayangnya, hingga kini, nilai tambah dari kekayaan tersebut masih lebih sering dinikmati di luar daerah, sementara masyarakat lokal kerap bertahan di garis produksi paling dasar. Inilah ironi agrominapolitan yang perlu dikritisi: konsepnya maju, tetapi praktiknya masih berjalan lambat dan parsial.
Kritik ini harus diarahkan langsung ke jantung persoalan: pola pembangunan yang masih cenderung administratif, belum sepenuhnya transformatif. Program sering selesai di laporan, tetapi dampaknya belum selalu selesai di kehidupan rakyat. Petani masih berjibaku dengan fluktuasi harga, nelayan masih bergantung pada cuaca dan tengkulak, dan UMKM lokal masih kesulitan menembus rantai pasar yang lebih luas. Ini bukan kegagalan niat, melainkan kekurangan keberanian untuk melakukan terobosan besar.
Jika Bombana benar-benar ingin menjadikan agrominapolitan sebagai lokomotif kemajuan, maka langkah pertama adalah menggeser orientasi pembangunan dari sekadar produksi ke penguasaan rantai nilai. Pemerintah daerah perlu mendorong lahirnya sentra pengolahan hasil pertanian dan perikanan berbasis desa atau kawasan, lengkap dengan dukungan teknologi sederhana, pembiayaan yang mudah, dan jaminan pasar. Bukan sekadar menanam dan menangkap, tetapi mengolah, mengemas, dan memasarkan dengan identitas Bombana.
Kedua, keberanian berkarya harus diterjemahkan menjadi keberanian memangkas birokrasi yang menghambat inovasi. Anak-anak muda Bombana hari ini tidak kekurangan ide, mereka hanya kekurangan ruang. Inkubator bisnis lokal, kemitraan dengan perguruan tinggi, dan pemanfaatan ekonomi digital harus menjadi kebijakan nyata, bukan proyek musiman. Bombana tidak boleh kehilangan generasi kreatifnya hanya karena mereka merasa masa depan lebih menjanjikan di luar daerah.
Ketiga, pemerintah daerah perlu membangun budaya evaluasi yang jujur dan terbuka. Kritik publik jangan dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai energi perbaikan. Setiap program unggulan semestinya memiliki tolak ukur yang jelas dan mudah dipahami masyarakat: apa targetnya, apa hasilnya, dan apa dampaknya. Transparansi adalah fondasi kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal sosial paling mahal dalam pembangunan.
Di sisi lain, masyarakat Bombana juga dituntut untuk tidak sekadar menjadi penonton. Berani berkarya adalah panggilan kolektif. Petani, nelayan, pelaku UMKM, ASN, akademisi, hingga tokoh adat dan pemuda harus bergerak dalam irama yang sama: membangun Bombana dengan rasa memiliki, bukan sekadar rasa menunggu.
Bombana maju bukan berarti Bombana tanpa masalah. Bombana maju adalah Bombana yang berani mengakui kekurangannya, lalu bekerja bersama untuk memperbaikinya. Di usia ke-22 ini, Bombana berada di persimpangan penting: tetap berjalan aman di jalur lama, atau mengambil risiko cerdas untuk melompat lebih jauh.
Jika keberanian itu benar-benar hadir—dalam kebijakan, dalam kepemimpinan, dan dalam partisipasi rakyat—maka suatu hari nanti, Bombana tidak hanya dirayakan setiap 18 Desember, tetapi juga dikenang sebagai daerah yang berani berubah demi masa depannya sendiri.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-22 Kabupaten Bombana.
Saatnya keberanian berkarya dibuktikan, bukan sekadar dirayakan.

