Bombana ,A-1.Info / — Gelaran Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) KONI Bombana yang dilaksanakan pada 16 Agustus 2025 menyisakan tanda tanya besar. Alih-alih melahirkan pemimpin baru yang akan membawa tongkat estafet olahraga daerah menuju pentas Porprov mendatang, forum itu justru menemui jalan buntu. Belum ada kesepakatan yang dicapai. Pemilihan Ketua KONI resmi ditunda tanpa batas waktu yang jelas.
Dua nama mencuat sebagai kandidat kuat: Ir. Burhanuddin, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Bombana, dan Iskandar, Ketua DPRD Bombana. Keduanya memiliki latar belakang kepemimpinan yang kuat dan pengaruh politik yang signifikan di daerah ini. Namun, hingga musda digelar, belum ada kata sepakat siapa yang paling layak menduduki posisi strategis tersebut.
Ketegangan dalam proses pemilihan ini mengundang perhatian berbagai kalangan. Salah satunya datang dari kelompok muda yang selama ini menaruh harapan besar pada kemajuan dunia olahraga Bombana. Yudi, seorang pemuda yang aktif mengikuti perkembangan Musorkablub, menyampaikan pandangan tajam namun sejuk.
“Kita ingin KONI dipimpin oleh tokoh yang bisa menjaga marwah daerah, bukan hanya kuat secara organisasi, tapi juga berjiwa besar, sehat secara pemikiran, dan mampu menyatukan semua cabang olahraga,” ujar Yudi.
Menurutnya, “sehat” dalam dunia olahraga bukan hanya perkara fisik. Tapi juga mencakup sehat dalam berpikir, sehat dalam bertindak, dan sehat dalam menjaga wibawa daerah Bombana. Pemimpin olahraga tidak hanya dituntut bisa merancang strategi teknis, tetapi juga menjadi perekat sosial dan kultural di tengah masyarakat.
Yudi pun mengingatkan bahwa Bombana memiliki warisan budaya yang sangat berharga, yakni tudang sipulung, Teporompua dan semangat bombana bersaudara — semua mengarah pada pentingnya duduk bersama, mencari mufakat, dan menyelesaikan perbedaan dengan cara yang bermartabat.
“Kita ini orang Bombana. Kita tidak asing dengan budaya musyawarah. Jadi kenapa harus kaku dalam menentukan arah KONI? Duduk bersama, bicarakan secara terbuka, demi olahraga kita ke depan,” ujarnya.
Memang, Musorkablub ini adalah bagian dari demokrasi. Namun, seperti yang diutarakan banyak pihak, demokrasi bukan hanya soal menang dan kalah. Ini adalah soal kesanggupan menempatkan kepentingan umum di atas ego pribadi maupun kelompok.
Yudi menambahkan, dalam konteks ini, politik adalah pertarungan pikiran, tapi jangan sampai jadi pertarungan perasaan yang memecah. Apalagi KONI Bombana akan menghadapi agenda besar: Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Tanpa kepemimpinan yang sah dan solid, persiapan bisa terhambat. Cabang olahraga yang mulai bergeliat bisa kehilangan arah.
Penundaan hasil Musorkablub mestinya menjadi refleksi bahwa metode yang digunakan selama ini belum cukup mengakomodasi harapan semua pihak. Jika jalan formal tak kunjung menghasilkan pemimpin, maka jalan informal—yakni musyawarah tulus—harus diberi ruang.
Bukan tidak mungkin, dua tokoh yang bersaing itu justru bisa duduk bersama dan menyatukan kekuatan. Bayangkan jika seorang bupati dan ketua DPRD bisa bersatu untuk membangun olahraga Bombana. Itu akan menjadi contoh kepemimpinan sejati, yang bukan hanya mencetak prestasi, tapi juga menciptakan keharmonisan sosial dan politik di daerah.
Apalagi, KONI bukan lembaga politik. Ia adalah rumah besar olahraga. Di dalamnya ada harapan para atlet muda, pelatih, pengurus cabor, hingga orang tua yang ingin melihat anak-anak mereka berkembang melalui dunia olahraga.
Kalangan muda Bombana, termasuk Yudi, berharap agar momentum ini tidak berubah menjadi konflik jangka panjang. Mereka menginginkan KONI dipimpin oleh tokoh yang mengayomi, bukan menguasai; membangun, bukan membelah; mengajak, bukan memaksa.
Kita semua tahu, KONI Bombana punya potensi besar. Atlet-atlet berbakat terus bermunculan, infrastruktur olahraga perlahan membaik, dan dukungan masyarakat semakin terasa. Tapi semua itu akan sia-sia jika organisasi di pucuknya tidak segera menemukan arah dan pemimpin.
Kita butuh KONI yang kuat, dan untuk itu kita butuh pemimpin yang bijak. Bukan hanya cakap secara administrasi dan organisasi, tapi juga punya integritas, kedewasaan, dan kemauan untuk mendengar suara dari semua sisi—termasuk suara pemuda.
Musorkablub KONI Bombana sejatinya adalah kesempatan emas untuk menunjukkan jati diri daerah yang berbudaya dan demokratis. Jangan biarkan forum ini berubah menjadi medan rivalitas yang membelah masyarakat. Justru dari sini harus lahir pemimpin yang mampu menyatukan semua kekuatan olahraga di Bombana.
Musyawarah bukanlah kelemahan. Ia justru adalah kekuatan utama kita sebagai bangsa, sebagai daerah, dan sebagai komunitas olahraga. Jika kita bisa kembali ke nilai-nilai itu, KONI Bombana akan kembali sehat. Dan dari sanalah lahir prestasi, bukan hanya di arena, tapi juga dalam kehidupan sosial yang damai dan bermartabat.

