Peristiwa

Malam 1 Suro,Antara Kesucian Hijriah dan Mitos Musibah di Tanah Jawa

88
×

Malam 1 Suro,Antara Kesucian Hijriah dan Mitos Musibah di Tanah Jawa

Sebarkan artikel ini

Bombana,A-1 . Info / – Malam ini, Kamis (26/6), langit malam akan menyambut Malam 1 Suro, sebuah momen sakral yang menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Jawa. Masyarakat Jawa memaknai malam ini bukan sekadar pergantian hari, melainkan juga sebagai waktu penuh perenungan, spiritualitas, dan kadang… ketakutan.

Dalam tradisi Islam, malam ini bertepatan dengan malam 1 Muharram 1447 Hijriah, permulaan tahun baru Islam. Muharram merupakan satu dari empat bulan suci yang dimuliakan dalam ajaran Islam, sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surah At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

> “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan suci…”
(QS. At-Taubah [9]: 36)

 

Empat bulan suci itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam keempat bulan ini, umat Islam dianjurkan meningkatkan amal dan menghindari kezaliman, sebab waktu-waktu tersebut dijunjung tinggi oleh Allah SWT.

Namun, berbeda dengan nuansa keagungan yang dibawa oleh bulan Muharram, sebagian masyarakat Jawa menyelimuti bulan Suro—padanan lokal dari Muharram—dengan mitos dan kekhawatiran. Bulan ini dianggap “wingit”, penuh petaka, dan tak jarang dipenuhi dengan ritual tolak bala. Larangan pernikahan, bepergian jauh, hingga menunda acara-acara penting adalah kebiasaan turun-temurun yang masih dilakukan sebagian masyarakat hingga hari ini.

Dari sisi keyakinan Islam, pandangan ini bertentangan dengan akidah tauhid. Mencela waktu atau mengaitkan musibah pada periode tertentu merupakan praktik kaum musyrik masa lalu yang ditegur langsung dalam Al-Qur’an:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

> “Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)…’”
(QS. Al-Jatsiyah [45]: 24)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa waktu bukanlah penyebab malapetaka. Sebaliknya, setiap waktu diciptakan Allah dengan hikmah-Nya masing-masing. Menyalahkan waktu berarti mengingkari ketentuan Allah yang menciptakannya.

Meski demikian, Malam 1 Suro juga menyimpan sisi kemanusiaan yang luhur. Di beberapa tempat, masyarakat mengisinya dengan tirakat, doa bersama, hingga berbagi kepada sesama. Ini menjadi momentum untuk mawas diri dan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.

Sejatinya, bulan Muharram adalah momen reflektif, bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disyukuri. Sebuah kesempatan spiritual untuk memperbarui niat, menyucikan hati, dan melangkah ke tahun baru dengan semangat yang lebih baik.

Di tengah mitos dan budaya yang terus bertahan, semoga umat semakin memahami bahwa setiap waktu adalah amanah, bukan ancaman. Dan malam ini, Malam 1 Suro, adalah undangan sunyi dari langit untuk merenung—bukan merundung.

Sumber: Muslim.or.id, Al-Qur’anul Karim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *