Bombana,A-1.Info / – Memasuki hari ketiga puasa Ramadhan adalah fase krusial dalam perjalanan spiritual umat manusia, khususnya umat yang doyan gorengan. Jika hari pertama masih penuh semangat seperti peserta lomba lari 100 meter, hari kedua mulai melambat seperti sinyal WiFi tetangga, maka hari ketiga adalah momen refleksi: kita bertanya pada diri sendiri, “Ini lapar beneran atau cuma sugesti karena lihat video mukbang?”
Hari ketiga punya karakter unik. Tubuh sebenarnya sudah mulai adaptasi, tapi pikiran justru mulai liar. Tiba-tiba semua hal terlihat seperti makanan. Awan berbentuk bakso. Bantal menyerupai martabak. Bahkan teman kantor yang diam saja terlihat seperti es krim cone rasa vanilla. Inilah tanda bahwa imajinasi sudah ikut berpuasa dari logika.
Pada fase ini juga biasanya muncul dua tipe manusia. Tipe pertama adalah mereka yang tetap kuat, tenang, dan santai. Mereka bilang, “Puasa itu soal niat.” Sambil ngomong begitu, mereka minum air… untuk wudhu. Tipe kedua adalah mereka yang setiap lima menit cek jam, seolah-olah jam dinding itu bisa kasihan dan mempercepat waktu. Mereka menatap jarum detik dengan tatapan penuh harap, seperti nonton drama 30 episode tapi tinggal 10 menit lagi kuota habis.
Godaan hari ketiga juga semakin kreatif. Kalau hari pertama godaan cuma dari warung makan, hari ketiga godaan datang dari segala arah: notifikasi promo makanan, iklan minuman dingin, sampai tetangga yang dengan penuh percaya diri menggoreng ikan asin jam 11 siang. Aroma itu bukan sekadar bau, itu ujian iman versi aromaterapi.
Lucunya, orang yang puasa justru jadi ahli kuliner dadakan. Diskusi paling serius di kantor bukan lagi soal kerjaan, tapi menu buka puasa. Percakapan yang biasanya membahas target kerja berubah jadi debat ilmiah: kolak pisang vs es buah, gorengan vs bakwan, atau pertanyaan filosofis, “Kalau beli banyak takut mubazir, tapi kalau beli sedikit takut nyesel.”
Hari ketiga juga fase di mana stok kesabaran diuji. Orang yang biasanya santai bisa mendadak sensitif. Teman ngetik agak keras sedikit rasanya seperti konser rock. Printer bunyi sedikit terasa seperti alarm kiamat. Bahkan suara plastik kresek bisa terdengar seperti intro lagu dangdut remix yang terlalu dekat dengan telinga.
Namun di balik semua itu, ada keindahan tersendiri. Hari ketiga adalah momen ketika kita mulai menemukan ritme. Sahur sudah tidak kaget lagi, tubuh mulai paham jadwal baru, dan hati mulai tenang. Kita sadar bahwa lapar bukan musuh, melainkan pengingat. Pengingat bahwa ternyata hidup tidak melulu soal makan, walaupun pikiran kita masih saja memikirkan makan.
Menjelang waktu berbuka, suasana berubah drastis. Orang-orang yang siang tadi lemas mendadak hidup kembali. Grup chat yang sejak pagi sunyi tiba-tiba aktif. Status WhatsApp berubah jadi foto kurma, kolak, dan es teh dengan caption puitis: “Sederhana itu nikmat.” Padahal di meja ada takjil cukup untuk buka bersama satu RT.
Detik-detik adzan magrib di hari ketiga adalah puncak drama. Semua duduk rapi, gelas sudah dipegang, mata fokus ke arah masjid terdekat. Begitu adzan berkumandang, ekspresi berubah seperti pemain film yang baru dapat kabar warisan. Tegukan pertama terasa seperti minuman surga edisi terbatas.
Dan di situlah kita sadar, perjuangan tiga hari ini bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ini perjalanan melatih sabar, mengontrol diri, dan tentu saja… belajar menahan diri supaya tidak kalap saat berbuka. Walau kenyataannya, banyak yang tetap kalap, lalu lima menit kemudian menepuk perut sambil berkata, “Harusnya tadi ambil sedikit saja.”
Hari ketiga mungkin belum puncak tantangan, tapi cukup untuk membuat kita tersenyum pada diri sendiri. Karena ternyata, di balik perut keroncongan dan tenggorokan kering, ada satu hal yang tetap penuh: rasa syukur dan humor. Sebab kalau puasa dijalani sambil tertawa, lapar pun terasa seperti teman lama yang datang cuma untuk mengingatkan, bukan menyiksa.
Selamat menjalani hari ketiga puasa. Jika masih kuat, lanjutkan. Jika mulai lemas, ingat satu hal penting: waktu berbuka itu pasti datang. Tidak pernah dalam sejarah adzan magrib lupa bunyi.
Penulis : Ustad Receh Nasional
“Ahli tafsir lapar dan pengamat takjil garis keras”

