Bombana, A-1.Info /— Ancaman banjir yang membayangi Desa Biru, Kecamatan Poleang Timur, setiap musim hujan akhirnya mendapat respons konkret. Anggota DPRD Kabupaten Bombana, Yudi Utama Arsyad, membawa langsung aspirasi masyarakat terkait tanggul Sungai Poleang yang roboh dan tergerus arus ke kantor Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV di Kendari, Selasa, 3 Maret 2026.
Langkah tersebut diambil setelah warga menyampaikan kekhawatiran atas kondisi tanggul yang kian mengkhawatirkan. Saat debit air meningkat, luapan sungai berpotensi merendam ratusan hektare lahan persawahan. Jika tidak segera ditangani, situasi ini dapat berujung pada gagal panen dan kerugian ekonomi bagi petani.
Dalam pertemuan yang diterima Bidang Operasional BWS, Yudi yang juga Ketua DPC Partai Bulan Bintang Kabupaten Bombana memaparkan dampak langsung kerusakan tanggul terhadap kehidupan masyarakat.
“Kondisi tanggul ini sudah sangat mendesak. Setiap kali hujan deras, air meluap dan masuk ke sawah warga. Ini bukan hanya soal bangunan yang rusak, tetapi menyangkut nasib petani kita,” ujar Yudi.
Pihak BWS dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa perbaikan tanggul Sungai Poleang di Desa Biru direncanakan mulai dikerjakan setelah Lebaran melalui dukungan anggaran operasional balai. Informasi itu menjadi kabar yang ditunggu masyarakat.
“Alhamdulillah aspirasi masyarakat Desa Biru direspons dengan baik. Insya Allah setelah Lebaran akan mulai dikerjakan. Kami akan terus mengawal agar rencana ini benar-benar terealisasi,” lanjutnya.
Desa Biru selama ini dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Poleang Timur. Ratusan hektare sawah menjadi sumber utama penghidupan warga. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, kekhawatiran meningkat seiring kondisi tanggul yang tidak lagi mampu menahan arus sungai saat debit air tinggi.
Menurut Yudi, sebagai wakil rakyat, dirinya berkewajiban memperjuangkan setiap aspirasi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Ia mengaku menerima banyak laporan dari petani yang cemas menghadapi musim penghujan.
“Kami tidak ingin petani terus-menerus dihantui rasa waswas. Ketahanan pangan daerah sangat bergantung pada produktivitas mereka. Karena itu, perbaikan tanggul ini menjadi prioritas yang harus segera diwujudkan,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi keterbukaan BWS dalam menerima dan menindaklanjuti laporan warga. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga teknis dan perwakilan rakyat merupakan kunci penyelesaian persoalan infrastruktur.
“Kami berterima kasih atas respons cepat dari BWS. Harapan kami, pekerjaan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi bagian dari penanganan jangka panjang agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tambah Yudi.
Lebih jauh, ia menilai penguatan tanggul Sungai Poleang perlu dibarengi dengan perencanaan pengelolaan sungai yang lebih komprehensif sebagai langkah mitigasi bencana banjir di wilayah tersebut.
Kini, masyarakat Desa Biru menaruh harapan besar pada realisasi komitmen tersebut. Mereka berharap perbaikan tanggul dapat segera dimulai setelah Lebaran sehingga aktivitas pertanian kembali berjalan aman dan produktif tanpa bayang-bayang ancaman banjir setiap musim hujan tiba.


