Bombana,A-1.Info / – Memasuki hari keempat puasa Ramadhan yang kebetulan jatuh pada hari Minggu adalah kombinasi yang unik. Di satu sisi, ini hari libur yang identik dengan santai, rebahan, dan niat bangun siang. Di sisi lain, ini hari puasa yang menuntut kesabaran, ketahanan, dan kemampuan mengabaikan isi kulkas yang memanggil-manggil seperti mantan belum move on.
Kalau hari kerja kita sibuk melawan deadline, hari Minggu kita sibuk melawan bantal. Alarm sahur yang biasanya dimatikan dengan penuh pengorbanan kini dimatikan dengan penuh perasaan. Setelah sahur dan salat Subuh, niatnya cuma rebahan lima menit. Lima menit itu biasanya berubah jadi dua jam, lalu bangun dengan ekspresi bingung: “Ini sudah siang atau masih sahur sesi dua?”
Hari Minggu juga terkenal sebagai hari paling rawan godaan dapur. Kenapa? Karena di rumah semua orang masak. Aroma tumisan, gorengan, dan kuah santan bersatu membentuk orkestrasi aroma yang bisa menggoyahkan iman level nasional. Bau itu tidak datang pelan-pelan. Tidak. Ia datang dengan percaya diri, menyelinap lewat ventilasi, lalu duduk santai di hidung sambil berkata, “Sabar ya… nanti magrib.”
Di hari libur seperti ini, aktivitas orang puasa terbagi jadi beberapa tipe. Tipe pertama adalah “kaum produktif spiritual”, yang mengisi waktu dengan membaca, berzikir, dan kegiatan positif. Tipe kedua adalah “kaum realistis”, yang mengisi waktu dengan tidur sambil niat menghemat energi. Dan tipe ketiga adalah “kaum petualang kuliner imajinasi”, yang dari pagi sudah browsing menu buka puasa seolah-olah sedang menyusun proposal proyek nasional.
Menjelang sore, suasana Minggu Ramadhan punya nuansa berbeda. Jalanan mulai ramai oleh orang ngabuburit, tapi langkahnya santai, bukan karena tenang, melainkan karena tenaga disimpan untuk sprint menuju meja makan saat adzan nanti. Pedagang takjil pun tampil percaya diri, memamerkan dagangan seperti peserta fashion show kuliner: kolak melambai, es buah menggoda, gorengan tersenyum renyah.
Detik-detik sebelum magrib di hari Minggu rasanya lebih dramatis dibanding hari biasa. Mungkin karena kita tahu besok sudah Senin, jadi momen buka puasa terasa seperti grand finale episode liburan. Semua orang fokus, semua mata ke jam, semua hati berdoa semoga adzan tidak telat sedetik pun.
Dan ketika akhirnya adzan berkumandang, suasana berubah jadi festival rasa syukur. Tegukan air pertama terasa seperti hadiah kemenangan. Kurma pertama terasa seperti bonus prestasi. Bahkan air putih pun rasanya seperti minuman premium edisi terbatas.
Hari Minggu di hari keempat puasa mengajarkan satu hal sederhana: ternyata kebahagiaan itu bukan soal libur atau tidak, tapi soal bagaimana kita menikmatinya. Bisa santai tanpa lupa ibadah, bisa lapar tanpa kehilangan humor, dan bisa menunggu tanpa mengeluh.
Selamat menikmati puasa hari keempat versi hari Minggu. Kalau godaan datang, tarik napas, senyum, dan ingat—kasur boleh empuk, bau masakan boleh menggoda, tapi pahala sabar tetap juara
Penulis: Ustad Receh Nasional
Ahli tafsir lapar dan pengamat takjil garis keras.


