Bombana ,A-1.Info / — Sorak-sorai penonton membahana di Lapangan Cempa Bukkue. Untuk pertama kalinya, Desa Laea sukses menggelar Turnamen Sepakbola Laea Cup 2025, sebuah ajang olahraga bergengsi yang diselenggarakan sejak 21 Agustus hingga 11 September 2025. Rangkaian pertandingan yang berlangsung hampir tiga pekan ini bukan hanya meriah, tetapi juga mencatat rekor sebagai perhelatan dengan jumlah kehadiran warga terbesar sepanjang sejarah desa.
Di balik sukses ini, nama Kepala Desa Marwa, ST dielu-elukan. Warga menilai keberaniannya menghadirkan turnamen perdana di Hari Jadi Desa ke-19 sebagai langkah visioner sekaligus bukti nyata kepemimpinan yang membawa dampak langsung bagi masyarakat.
Laea Cup 2025 menjadi titik balik perayaan Hari Jadi Desa. Jika tahun-tahun sebelumnya peringatan hanya diisi dengan kegiatan sederhana, tahun ini tampil beda. Kepala Desa Marwa, ST berani memulai tradisi baru: menghadirkan turnamen sepakbola antarwilayah yang mampu mempersatukan warga, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap desa.
“Hari Jadi ke-19 harus berbeda. Laea Cup kami hadirkan bukan hanya untuk hiburan, tapi juga sebagai simbol kebersamaan dan wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan bakatnya. Ini sejarah baru bagi Desa Laea,” tegas Marwa di hadapan masyarakat.
Sejak laga pembuka, Lapangan Cempa Bukkue dipadati penonton dari berbagai kalangan. Ratusan hingga ribuan warga berbondong-bondong datang setiap sore, menjadikan suasana lapangan tak ubahnya stadion profesional. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga pedagang kecil bersatu dalam euforia olahraga yang membara.
Pertandingan demi pertandingan menghadirkan tensi tinggi. Yel-yel menggema, tepuk tangan bersahut-sahutan, sementara teriakan dukungan dari pinggir lapangan menciptakan atmosfer penuh energi. Panitia mencatat jumlah kehadiran penonton jauh melampaui perkiraan awal. Laea Cup 2025 pun menorehkan rekor sebagai kegiatan desa dengan partisipasi publik terbanyak.
Sebanyak 16 tim ikut ambil bagian dalam turnamen perdana ini, terdiri dari perwakilan desa sekitar dan tim lokal. Kompetisi berjalan ketat dengan semangat sportivitas yang tinggi. Tidak sedikit pertandingan yang berakhir dramatis, bahkan beberapa harus ditentukan lewat adu penalti, menambah sensasi bagi penonton.

Bagi warga, melihat tim kesayangannya bertanding di lapangan sendiri adalah kebanggaan tersendiri. Laea Cup 2025 berhasil menumbuhkan identitas baru bagi desa: desa kecil dengan semangat besar yang mampu menggelar turnamen bergengsi.
Tak hanya di bidang olahraga, turnamen ini juga membawa dampak signifikan bagi perekonomian lokal. Pedagang kaki lima, penjual makanan, hingga UMKM desa merasakan lonjakan omzet selama turnamen berlangsung. Lapangan Cempa Bukkue bukan hanya menjadi arena olahraga, tetapi juga pusat perputaran ekonomi rakyat.
“Alhamdulillah, jualan kami laris manis sejak ada turnamen ini. Setiap sore lapangan penuh orang, dan itu membawa berkah buat kami,” ungkap salah satu pedagang lokal.
Secara sosial, Laea Cup 2025 menjadi perekat kebersamaan. Warga bergotong royong menyiapkan fasilitas, menjaga ketertiban, hingga mendukung jalannya pertandingan. Pemuda karang taruna tampil sebagai motor penggerak panitia, menunjukkan bahwa generasi muda mampu menjadi tulang punggung pembangunan desa.
Keberhasilan turnamen perdana ini membuat warga kagum. Tidak sedikit tokoh masyarakat yang memberikan apresiasi kepada Kepala Desa Marwa, ST. Mereka menilai turnamen ini sebagai langkah cerdas dalam membangun kebersamaan sekaligus mengangkat citra desa.
“Kami salut kepada Bu Kades. Beliau tidak hanya memimpin dengan kata-kata, tetapi juga memberi bukti nyata dengan menghadirkan kegiatan bersejarah ini. Laea Cup 2025 adalah warisan baru yang akan dikenang warga desa,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Marwa sendiri menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja kolektif seluruh masyarakat.
“Turnamen ini tidak akan berhasil tanpa dukungan warga. Dari panitia, perangkat desa, pemuda, hingga ibu-ibu yang menyiapkan konsumsi, semuanya ikut terlibat. Ini bukti nyata semangat gotong royong kita,” katanya.
Kesuksesan Laea Cup 2025 membuat Pemerintah Desa berkomitmen untuk menjadikannya agenda rutin tahunan. Kepala Desa Marwa, ST berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti di tahun ini, melainkan terus berkembang sebagai tradisi positif desa.
“Kami ingin Laea Cup menjadi tradisi. Turnamen ini bukan hanya olahraga, tapi juga wadah silaturahmi, hiburan rakyat, sekaligus sarana melahirkan bibit atlet yang bisa membanggakan desa. Semoga tahun-tahun berikutnya lebih besar dan lebih meriah,” tegasnya.
Laea Cup 2025 menjadi puncak perayaan Hari Jadi Desa ke-19. Perayaan kali ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum berharga untuk menunjukkan identitas baru desa: solid, kreatif, dan penuh semangat kebersamaan.
Warga kini menyadari bahwa ulang tahun desa bukan hanya ajang nostalgia, tetapi juga peluang untuk menorehkan sejarah baru. Dan di tahun ke-19, sejarah itu sudah ditulis dengan tinta emas melalui Laea Cup 2025.
Ketika peluit panjang dibunyikan di Lapangan Cempa Bukkue pada laga final 11 September 2025, bukan hanya akhir sebuah pertandingan yang dirayakan. Lebih dari itu, desa merayakan lahirnya tradisi baru yang akan terus dikenang.
Laea Cup 2025 adalah bukti bahwa dengan visi, keberanian, dan gotong royong, sebuah desa mampu menciptakan perhelatan besar yang mengangkat martabat warganya. Dan di pusat sejarah itu, nama Kepala Desa Marwa, ST tercatat sebagai sosok pemimpin yang berhasil membawa Desa Laea melangkah lebih jauh, dari sekadar merayakan ulang tahun menuju menciptakan sejarah yang membanggakan.

