Bombana ,A-1.Info / – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun 2025 sedang berlangsung serentak di seluruh sekolah se-Kabupaten Bombana sejak Senin, 14 Juli dan akan berakhir pada Jumat, 18 Juli 2025. Namun ada yang berbeda dari wajah MPLS tahun ini. Kegiatan yang dulunya identik dengan perpeloncoan dan tekanan mental, kini berubah total menjadi ruang pembinaan karakter yang hangat, ramah, dan penuh semangat.
Di berbagai sekolah, terutama di tingkat menengah, para siswa baru mengikuti MPLS dengan antusias. Mereka dikenalkan pada lingkungan fisik sekolah, tata tertib, guru, hingga kegiatan ekstrakurikuler. Tidak ada lagi atribut aneh, hukuman fisik, atau bentakan dari kakak kelas. Semua kegiatan dipandu langsung oleh guru dan tenaga pendidik, bukan senior.
Ayra Lisna, siswi baru di SMA Negeri 03 Bombana, mengaku sempat cemas saat akan masuk sekolah karena cerita-cerita masa lalu tentang MPLS yang menyeramkan. Namun kekhawatiran itu langsung sirna sejak hari pertama.
“Saya pikir akan disuruh pakai topi dari kardus atau dihukum karena salah jawab. Tapi ternyata sama sekali tidak begitu. Kegiatannya menyenangkan, kami diajak tur sekolah, kenalan dengan guru, belajar cara belajar efektif, bahkan ada games yang bikin makin akrab,” ujarnya saat ditemui Selasa (15/07/2025).
Ayra juga mengatakan bahwa selama kegiatan, tidak pernah sekalipun ia merasa direndahkan atau dipermalukan. Sebaliknya, ia merasa dihargai dan disambut dengan ramah oleh seluruh warga sekolah. “Rasanya kayak bukan anak baru, tapi langsung dianggap bagian dari keluarga sekolah,” tambahnya dengan mata berbinar.
Kesan positif juga datang dari orang tua siswa. Suci Is Purwati, ibu dari Ayra Lisna mengatakan ,ia tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia mengaku sempat khawatir anaknya akan pulang dengan cerita menakutkan seperti masa-masa MOS zaman dahulu.
“Tapi ternyata anak saya pulang dengan cerita penuh tawa. Katanya, guru-gurunya baik, kegiatan seru, dan sama sekali tidak ada yang menakut-nakuti. Sebagai orang tua, saya merasa dihargai. Ini bukan sekadar pengenalan sekolah, tapi pengenalan nilai-nilai kehidupan,” tuturnya.
Suci menegaskan, apa yang dilakukan sekolah dalam MPLS tahun ini memberi harapan baru bahwa dunia pendidikan memang sedang berubah. “Saya berharap praktik seperti ini terus dijaga. Karena anak-anak kita butuh diajak tumbuh, bukan ditekan. Butuh diarahkan, bukan dimaki. Butuh dihargai, bukan dipermalukan,” ujarnya dengan nada haru.
Pelaksanaan MPLS sendiri telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2016. Isinya jelas: tidak boleh ada unsur perpeloncoan, kekerasan, tugas yang tidak relevan, atau keterlibatan kakak kelas dalam pelaksanaan. Semua kegiatan wajib bersifat edukatif dan dilakukan di bawah pengawasan guru.
Sanksi tegas pun telah disiapkan bagi pelanggaran, termasuk pencopotan kepala sekolah hingga sanksi bagi siswa pelaku kekerasan. Namun di Bombana, hingga hari ketiga pelaksanaan MPLS, belum ada laporan pelanggaran yang mencoreng proses pendidikan ini. Sebaliknya, MPLS justru menjadi ruang awal yang menyenangkan bagi siswa baru dalam mengenal lingkungan barunya.
Kini, MPLS bukan lagi momok yang menakutkan, tetapi menjadi jembatan awal menuju masa depan yang penuh harapan. Sekolah bukan tempat uji mental, melainkan ruang tumbuh yang manusiawi. MPLS bukan lagi panggung kekuasaan kakak kelas, tapi arena persahabatan dan pembentukan karakter.
Dengan perubahan besar ini, Bombana menunjukkan bahwa pendidikan bisa memanusiakan sejak langkah pertama. Karena anak-anak tak datang ke sekolah untuk dihukum atau ditakuti, tetapi untuk belajar, dikenali, dan dibentuk menjadi pribadi utuh yang siap menatap masa depan.

